Pentingnya Aqiqah Dan Tata Cara Pelaksanaannya Dalam Islam

/

Setiap pasangan suami-istri mukmin yg sedang menunggu kelahiran bayinya, pasti telah mempersiapkan banyak hal, salah satunya adalah, mempersiapkan aqiqah untuk calon bayi yang akan lahir kelak.

Aqiqah Bekasi

Pengertian Aqiqah

Aqiqah yaitu suatu amalan menyembelih hewan berupa kambing atau domba sebagai wujud rasa syukur kepada Allah atas kelahiran bayi dengan syarat-syarat tertentu menurut Syariat Islam.

Hukum Aqiqah Untuk Bayi

Tata Cara Pelaksanaan Aqiqah

Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa hukum aqiqah Sunnah Muakkad bagi orang-tua yang mampu mengaqiqah-kan bayinya yang lahir ketika itu.

Berikut beberapa keterangan hadis yang menjadi dasar melaksanakan aqiqah.

1. Dari Samura bin Jundab radhiyallahu’anhu, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Setiap anak yang baru lahir tergadai dan ditebus dengan Aqiqahnya yaitu disembelih aqiqah untuknya di hari Ketujuh.lalu dicukur rambutnya dn diberi nama.”
(HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa’i Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimi)

2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barang-siapa di antara kalian yg ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi, hendaklah ia lakukan utuk laki-laki 2 kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing.”
(HR. Ahmad Abu Dawud, Abdurrazaq, dishahihkan Al Hakim)

Waktu Penyembelihan

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama empat madzhab mengenai waktu penyembelihan hewan Aqiqah dengan dalil yang mereka jadikan hujjah :

1. Ulama Madzhab Maliki dan Hanafi ber pandangan bahwa waktu penyembelhan hewan aqiqah ialah pada hari Ketujuh sejak tanggal kelahiran bayi dan waktu setelah itu sudah bukan aqiqah lagi, tetapi hanya sedekah biasa.

Dari Samura bin jundab, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Setiap anak yang baru lahir tergadai dan ditebus dengan aqiqah yaitu disembelih aqiqah untuk nya pada hari ketujuh, dicukur rambut nya dan diberi nama.”
(HR. Tirmidzi, Ahmad, Nasaa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Darimi: Shahih)

2. Ulama Madzhab Hambali berpandangan bahwa waktu penyembelihan hewan aqiqah yg afdhol pada hari ke-7, apabila belum luang masih disunnahkan pd hari ke-14 dan kalau belum luang juga masih disunnahkan pada hari ke- 21, sejak lahir bayi berdasar keterangan hadits berikut :

Dari Abdullah bin Buraidah r.a, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh, atau hari ke empat belas atau hari kedua puluh satu.”
(HR. Abu Dawud : Hasan)

3. Sedangkan Ulama Madzhab Syafi’i ber pandangan bahwa batas waktu penyem belihan hewan aqiqah oleh orang-tua utuk anak yang lahir yaitu sampai anak baligh Bahkan bila si anak telah dewasa namun belum sempat diaqiqahi orang-tua maka bisa meng-aqiqahi dirinya sendiri. Pendapat ini berdasar pada sifat umum hadits berikut :

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Kullu ghulamin murtahanun bi‘aqiqatihi (Setiap anak tertuntut dengan aqiqah).”
(HR. Imam Bukhari)

Jenis Dan Syarat Hewan Aqiqah

Hewan aqiqah yang disyariatkan adalah jenis Domba yg berumur minimal 0,5 th atau jenis Kambing, yg berumur minimal 1,0 tahun. hewan-hewan itu harus bebas cacat dan sehat, dan upayakanlah tidak sedang bunting.

Tata urutan Yang Disunnahkan

  1. Membaca basmalah
  2. Membaca sholawat atas Nabi
  3. Membaca takbir
  4. Membaca doa aqiqah
  5. Membelih sendiri/diwakilkan
  6. Membagikan daging aqiqah
  7. Mencukur semua rambut bayi
  8. Memberi nama yg baik pada bayi
  9. Bersedekah seharga emas seberat rambut bayi yg dicukur

Do’a Aqiqah Sesuai Sunnah

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Al-Baihaqi, disebutkan:

tata cara aqiqah

“Bahwa sanya Rasulullah Shallallahu ‘alihi wasallam mengaqiqah Al-Hasan dan Al-Husain dengan dua ekor kambing pada hari ke tujuh, dan diperintahkan agar rambut kepalanya dicukur. Lalu beliau berkata sembelihlah atas namanya, ucapkan ‘Bismillah wallahu akbar. Allahumma laka wa ilaik. Hadzihi aqiqatu fulan’. (Dengan nama Allah, Allah yang maha besar. Ya Allah, ini milikMu dan untukMu. Ini adalah aqiqah untuk si fulan”.

“Bismillah wallahu akbar, Allahumma laka wa ilaika Hadzihi Aqiiqatu …..(Fulan / Nama Bayi yang Diaqiqahi) ……”

“Dengan nama Allah, Allah Maha Besar Ya Allah, ini milik-Mu dan untuk-Mu. Ini adalah aqiqah untuk …. (Sebutkan nama bayi yang diaqiqahi).” (HR. Baihaqi)

Manfaat Aqiqah

  1. Melaksanakan aqiqah atas lahirnya bayi akan mendapat beberapa manfaat yakni,
  2. Melindungi Bayi dari Gangguan Syetan
  3. Mensukuri nikmat atas kelahiran bayi
  4. Mengambil amalan tergadai/tertahan
  5. Memenuhi tuntunan yang Disunahkan
  6. Memperkuat syiar dalam masyarakat

Mengaqiqahi Orang yang Sudah Meninggal

1. Bayi Lahir Lalu Meninggal

Ulama berbeda paham mengenai hal ini sebagian berpendapat tetap sunnah dan sebagian lainnya berpendapat sudah tak ada lagi kesunnahannya.

a. Pendapat Tetap Sunnah

Yang berpendapat bahwa bayi yang lahir terus mati tetap sunnah diaqiqahi, yaitu Ulama Syafi’iyyah dan Ulama Hanabilah (Raudhah al Thalibin 3/232, Majmu’ VIII/449, Asy Syarhul Zad Mustaqina’ 8/272)

Madzhab ini berpendapat demikian, karena aqiqah itu bukan syariat yang dibatasi oleh adanya kematian bayi melainkan karena adanya kelahiran sibayi (al-wiladah) meskpun anak tersebut telah meninggal Para fuqaha sepakat bhw kelahiran anak itulah yg menjadi sebab dilakukn aqiqah (Al Mufashshal fi Ahkam Al ‘Aqiqah, 132)

b. Tidak Ada Kesunahannya

Sedang kalangan Ulama Malikiyah dan Hanifiyah menegaskan bhw aqiqah tidak disyariatkan lagi bagi bayi yang lahir lalu mati, karena Aqiqah dipandang sebagai syariat merayakan lahir-nya bayi, apabila ternyata si bayi mati, akan gugur Sunnahnya. Ini adalah fatwa resmi dari Ulama Malikiyyah. (Hasyiah Al Qulyubi IV / 256, Hasyyiah Daasuqy 2/126)

2. Orangtua Yang Meninggal

Anak tidak disyariatkan mengaqiqahkan orangtuanya yg sudah meninggal karena anjuran Aqiqah hanya terhadap orangtua untuk anaknya (ketika masih bayi)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata : “Anjuran aqiqah itu ditujukan kepada orangtua bukan kepada anak. Jadi meng aqiqahi orangtua yang sudah meninggal tidak disyariatkan dalam Islam.”

Mengaqiqahi Diri Sendiri

Dalam hal ini ada perbedaan pandangan di kalangan ulama tentang hukum meng aqiqahi dirisendiri. Berikut ini merupakan pendapat para ulama besar :

1. Muhammad bin Qosim Al-Ghozzi ber kata : “Aqiqah tidak salah bila diakhirkan setelah itu. Bila diakhirkan hingga baligh maka gugur lah tanggung jawab aqiqah orangtua kepada anaknya. Dan sesudah baligh seorang anak punya pilihan untuk meng-aqiqahi dirinya sendiri.”

2. Hasan Al Bashri rahimahullah berkata: “Sekiranya kamu belum diaqiqahi, maka aqiqahilah dirimu sendiri kamu seorang laki-laki.”

3. Imam Malik rahimahullah berkata :

“Tidak perlu mengaqiqahi dirinya sendiri karena dalil yang membahas perkara itu adalah hadits Dhoif (lemah). Coba lihat
para sahabat Nabi yang belum diaqiqahi dimasa Jahiliyah, apakah mereka meng aqiqahi diri mereka sendiri ketika masuk
Islam ? Jelaslah ini suatu kebatilan.”

4. Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Tidak perlu seseorang mengaqiqahi diri sendiri, karena :

a. Walaupun ada sebuah hadist namun hadits ini tingkatannya Dhoif (Lemah) se hingga tidak bisa dijadikan suatu hujjah.” Hadits tersebut adalah :

“Nabi shallallahi ‘alaihi wasallam meng- aqiqahi dirinya sendiri setelah dia diutus sebagai Nabi.” (HR. Al Baihaqi)

b. Para sahabat Rasulullah yang belum diaqiqahi di massa Jahiliyah tidak meng aqiqahi diri mereka sendiri ketika masuk Islam.

c. Aqiqah adalah amalan yang disedia kan bagi orangtua dan bukanlah amalan yang disediakan bagi anak.

d. Hukum aqiqah sunnah muakkad dan bukan wajib seperti yang telah dipahami sebagian kecil golongan.

e. Kata “Tergadai” pada hadits maksud nya satu amalan tertahan yg bagus dan berpahala besar bila diambil /ditunaikan Namun bila tidak mampu melaksanakan nya ketika itu, bukanlah suatu yg tercela.

Rumah Aqiqah Berpengalaman Dibandung

Aqiqah Al Hilal adalah rumah aqiqah di bandung bersertifikat halal MUI. Paket nasi box, sate, gule dan masih banyak lagi paket yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan Anda.  Aqiqah Bandung Al-Hilal, Paket Aqiqah Harga Kaki Lima Kualitas Bintang Lima.

Penutup

Demikianlah bahasan mengenai seputar pelaksanaan aqiqahi. Semoga tulisan ini menjadi referensi dan pembanding, dan bila ada sedikit perbedaan pemahaman, maka jadikanlah perbedaan itu rahmat.

SEMOGA BERMANFAAT ~>v<~

1 thought on “Pentingnya Aqiqah Dan Tata Cara Pelaksanaannya Dalam Islam”

Leave a Comment